Pada proyek jalan khususnya jenis perkerasan beton, biasanya kita melihat material penghubung seperti pada gambar di atas. Apa yang dimaksud gambar di atas? Material penghubung seperti gambar di atas adalah dinamakan dowel.
Dowel adalah material penghubung antara 2 (dua) komponen struktur. Dowel berupa batang baja polos maupun profil, yang digunakan sebagai sarana penyambung / pengikat pada perkerasan jalan tipe rigid pavement.
Adapun yang dimaksud Rigid Pavement atau perkerasan kaku merupakan suatu konstuksi perkerasan dimana sebagai lapisan atas dipergunakan pelat beton yang terletak di atas pondasi atau langsung diatas tanah dasar pondasi atau langsung diatas dasar subgrade.
Secara singkat, jenis sambungan pada Rigid Pavement terdiri dari :
- Sambungan Susut, dibuat untuk mengalihkan tegangan tarik akibat suhu, kelembaban, gesekan sehingga akan mencegah retak. Jika sambungan susut tidak dipasang, maka akan terjadi retak acak pada permukaan beton.
- Sambungan muai, fungsi utamanya untuk menyiapkan ruang muai pada perkerasan, sehingga mencegah terjadinya tegangan tekan yang akan menyebabkan perkerasan tertekuk.
- Sambungan konstruksi (pelaksanaan), diperlukan untuk kebutuhan konstruksi (berhenti dan mulai pengecoran). Jarak antar sambungan memanjang disesuaikan dengan lebar alat atau mesin penghampar (paving machine) dan oleh tebal perkerasan.
- Sambungan engsel, diperlukan pada perkerasan dengan pelat perkerasan cukup lebar (>7 m). Sambungan ini berupa sambungan kearah memanjang yang berfungsi sebagai panahan gaya lenting (warping).
Untuk fungsi dari dowel adalah sebagai berikut :
- Sebagai penyalur beban pada sambungan yang dipasang dengan separuh panjang terikat dan separuh panjang dilumasi atau dicat untuk memberi kebebasan bergeser.
- Untuk menguatkan konstruksi badan jalan.
- Untuk menghambat retakan yang terjadi di salah satu segmen agar tidak menjalar atau menerobos ke segmen selanjutnya.
Batang dowel secara manual dimasukkan ke dalam sendi konstruksi (construction joint) pada tahap akhir pekerjaan. Sendi konstruksi (construction joint) harus direncanakan sedemikian rupa untuk dapat mengurangi sendi tambahan.
Agar dapat mencegah korosi, batang dowel yang baik dilapisi dengan stainless steel atau epoxy. batang dowel biasanya dimasukkan pada pertengahan slab mendalam dan dilapisi dengan zat yang mencegah dowel ini melekat ke PCC (pre-stressed cement concrete).
Demikian sedikit ulasan tentang apa itu dowel pada konstruksi perkerasan jalan beton. Semoga bermanfaat.
Jalan merupakan sarana prasarana yang sangat penting bagi perekonomian. Dengan jalan yang bagus, akan mempercepat pertumbuhan perekonomian di suatu daerah. Jenis perkerasan jalan yang sering kita lihat di sekeliling kita adalah jalan aspal dan jalan beton. Pada postingan kali ini, kami mencoba untuk membandingkan perkerasan jalan aspal dengan jalan beton yang kami peroleh dari berbagai sumber.
Perkerasan Jalan Aspal.
- Faktor Biaya. Perkerasan jalan aspal pada umumnya membutuhkan biaya awal konstruksi yang lebih rendah daripada perkerasan beton. Namun untuk daya dukung tanah dasar dan umur rencana yang sama seperti perkerasan beton, maka keperluan agregat perkerasan aspal akan lebih banyak, sehingga perlu pembukaan sumber material baru. Selain itu perkerasan aspal membutuhkan biaya pemeliharaan yang tinggi selama umur rencana.
- Faktor Waktu. Umunya selesai konstruksi, perkerasan aspal tidak perlu menunggu waktu yang lama, atau bisa langsung melayani kendaraan. Bila satu dan lain hal perkerasan aspal perlu dibongkar atau direcycling, maka waktu yang diperlukan juga tidak lama, dengan kemampuan alat yang tidak terlalu besar.
- Keawetan dan Kekuatan. Perkerasan aspal bila diperlihara dengan baik bisa bertahan sampai 10 tahun sebelum dilakukan pekerjaan peningkatan atau overlay.
- Kenyamanan dan Keselamatan. Umumnya perkerasan aspal sangat nyaman untuk dilalui, terlebih pada konstruksi campuran panas, dimana kekerasannya cukup rendah, yang juga mengurangi kebisingan. Warnanya yang hitam dan gelap tidak memberikan efek silau pada siang hari.
- Aspek Konstruksi dan Peralatan. Secara historis, perkerasan aspal sudah lebih dikenal dan lebih awal dibangun dari perkerasan beton. Peralatan yang digunakan juga beragam, dari yang sederhana untuk konstruksi pelaburan atau makadam, hingga yang lebih lengkap (asphalt mixing plant) untuk konstruksi campuran panas. Pengalaman kontraktor di bidang konstruksi perkerasan aspal juga sudah lebih lama dan meluas.
- Dampak Lingkungan. Kecuali pada tipe asal emulsi, perkerasan aspal umumnya memerlukan energi yang tinggi, baik pada waktu pencampuran, penghamparan maupun pemadatan.
Perkerasan Jalan Beton.
- Faktor Biaya. Biaya awal konstruksi perkerasan beton walau masih di atas perkerasan aspal, namun karena pemeliharaannya sedikit dan umur rencananya lebih panjang, maka biaya totalnya (life cycle cost) akan lebih rendah dari perkerasan aspal.
- Faktor Waktu. Karena kekuatan beton selesai dicor masih rendah, maka perlu menunggu waktu lama (28 hari) untuk bisa dilewati lalu lintas.
- Keawetan dan Kekuatan. Umumnya perkerasan beton bila pada awal pengecoran dirawat dengan baik, umur pelayanannya bisa mencapai lebih dari 20 tahun.
- Kenyamanan dan Keselamatan. Perkerasan beton memang tidak senyaman perkerasan aspal (nilai kekerasan rata-rata di atas 4m/km), terutama pada kecepatan tinggi, dimana selain kekasaran, pengaruh sambungan juga terasa, dan ini meningkatkan kebisingan.
- Aspek Konstruksi dan Peralatan. Perkerasan beton mulai dikenal luas di Indonesia sejak pertengahan tahun 1980-an, dimana saat itu pabrik-pabrik semen masih memiliki kapasitas produksi berlebih untuk kebutuhan domestik dan ekspor.
- Dampak Lingkungan. Dari segi bahan baku, energi yang dibutuhkan untuk memproduksi semen atau aspal per satuan volume mungkin tidak jauh berbeda. Namun karena kebutuhan aspal dalam campuran hanya 5-6%, sedangkan semen bisa lima kali lipatnya, maka energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan bahan baku semen akan lebih besar dari aspal untuk volume perkerasan jalan yang sama. Walaupun demikian, secara total karena pencampuran semen, air dan agregat merupakan proses kimia, tanpa memerlukan pemanasan, maka energi yang dibutuhkan untuk membentuk perkerasan beton jauh lebih rendah dari perkerasan aspal.
Demikian sedikit ulasan tentang perkerasan jalan aspal dengan jalan beton. Terima kasih.
Pada postingan kali ini, kami akan membahas atas pertanyaan teman kami beberapa waktu yang lalu. Teman kami yang masih baru terjun di dunia proyek bertanya pada kami apa itu overstek? Setelah mencari berbagai sumber, pada kesempatan kali ini akan kami sharekan sedikit pengertian oversteak pada bangunan.
Istilah overstek pada bangunan adalah bagian bangunan / konstruksi yang menggantung tanpa ditopang kolom / tiang atau dinding. Overstek dapat berupa tritisan, lantai bangunan, topi-topi dan lain-lain.
Overstek merupakan salah satu ciri dari bangunan tropis yang gunanya untuk melindungi dinding, kusen, dari cuaca atau mengurangi sinar matahari yang menyinari kaca jendela dan dinding.
Demikian sedikit share kami tentang apa itu overstek pada bangunan. Semoga bermanfaat. Terima kasih.
Seperti yang telah kita ketahui bersama dalam postingan Pengertian Bekisting, disebutkan bahwa Bekisting atau formwork adalah suatu konstruksi pembantu yang bersifat sementara yang merupakan cetakan / mal ( beserta pelengkapnya pada bagian samping dan bawah dari suatu konstruksi beton yang dikehendaki. Bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan (Stephens, 1985)
Pada postingan kali ini akan kami ulas tentang macam-macam material yang bisa dijadikan bekisting, antara lain :
1. Plywood yang dilapisi polyfilm
Berdasarkan ada tidaknya lapisan pelindung permukaan, plywood dibagi atas dua jenis yaitu yang dilapisi oleh polyfilm dan yang tidak dilapisi polyfilm. Plywood yang dilapisi polyfilm memiliki keawetan yang lebih tinggi sehingga dapat digunakan berulang kali dan lebih lama dibandingkan yang tidak dilapisi polyfilm.
2. Kayu
Dalam dunia konstruksi, kayu merupakan bahan bekisting yang banyak digunakan, khususnya pada bekisting konvensional dimana keseluruhan bahan bekisting dibuat dari kayu. Begitu juga dengan bekisting semi konvensional, dimana material kayu masih banyak digunakan meski penggunaan kayu papan telah digantikan oleh plywood. Untuk menghasilkan hasil beton yang sesuai dengan yang direncanakan, maka diperlukan acuan mengenai jenis kuat kayu, sehingga syarat kekuatan dan kekakuan kayu masih dalam batas-batas yang diijinkan.
3. Baja profil
Pada bekisting semi konvensional dan bekisting sistem bahan baja profil dipakai sebagai bahan bekisting terutama sebagai support atau sabuk pada bekisting kolom dan dinding. Penggunaan material ini terutama digunakan pada pekerjaan dengan pemakaian ulangnya banyak sekali. Selain untuk menghasilkan hasil beton yang sesuai dengan yang direncanakan, maka diperlukan acuan mengenai kekuatan material dari bahan Steel, sehingga syarat kekuatan dan kekakuan steel masih dalam batas-batas yang diijinkan serta dengan pertimbangan faktor ekonomis sehingga perlunya perencanaan steel dengan metode elastis.
Demikian sedikit ulasan tentang macam-macam material yang bisa dijadikan bekisting. Terima kasih.
Dalam pekerjaan pembesian, kita sering mendengar beberapa macam tulangan. Pada postingan kali ini akan kami ulas sedikit tentang macam-macam tulangan yang biasa kami temui / jumpai di lapangan. Apa saja tulangan tersebut ?
Macam-macam tulangan dalam pekerjaan pembesian yang biasa kami jumpai di lapangan adalah sebagai berikut :
- Tulangan Pokok. Tulangan Pokok disebut juga tulangan utama atau tulangan memanjang. Yaitu tulangan yang memanjang searah dengan panjang balok atau kolom.
- Tulangan Tumpuan. Yaitu tulangan pokok atau tulangan utama yang posisinya berada di sekitar area tumpuan. Biasanya yang menggunakan istilah ini hanya untuk balok (dan juga pelat). Kolom tidak mengenal tulangan tumpuan. Kalau kolom biasanya istilahnya tulangan ujung atas atau bawah.
- Tulangan lapangan. Yaitu tulangan pokok atau tulangan utama yang posisinya berada di tengah bentang.
- Tulangan Geser. Tulangan geser disebut juga begel, sengkang, ties, stirrups, dan lain-lain. Yaitu tulangan melingkar yang mengikat tulangan utama pada balok maupun kolom. Fungsinya untuk memegang tulangan utama, dan sebagai tulangan geser (menahan gaya dalam geser).
- Tulangan Ekstra. Yaitu tulangan tambahan yang ditambahkan pada tulangan tumpuan atau tulangan lapangan. Biasanya tulangan ekstra ini tidak dipasang di sepanjang balok, tapi hanya di sekitar area yang membutuhkan saja.
Demikian sedikit ulasan tentang beberapa macam tulangan yang biasa dijumpai di lapangan. Terima kasih.
Kualitas air sangat mempengaruhi kekuatan beton. Kualitas air erat kaitannya dengan bahan-bahan yang terkandung dalam air tersebut. Air diusahakan agar tidak membuat rongga pada beton, tidak membuat retak pada beton dan tidak membuat korosi pada tulangan yang mengakibatkan beton menjadi rapuh.
Pada pengecoran beton pembuatan rumah sederhana atau tidak bertingkat, kebanyakan tukang mengira, semakin encer beton, semakin bagus karena permukaan yang dihasilkan semakin mulus, tanpa ada rongga, padahal, dengan kelebihan air, mutu beton akan anjlok sangat jauh. ini disebabkan faktor air semen yang tinggi dalam beton menyebabkan banyak rongga setelah airnya mengering.
Banyak hal-hal lain yang bisa berdampak karena pemakaian air, berikut ini uraiannya :
- Air tidak mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter karena dapat mengurangi daya lekat atau bisa juga mengembang (pada saat pengecoran karena bercampur dengan air) dan menyusut (pada saat beton mengeras karena air yang terserap lumpur menjadi berkurang).
- Air tidak mengandung garam lebih dari 15 gram karena resiko terhadap korosi semakin besar.
- Air tidak mengandung khlorida lebih dari 0,5 gram/liter karena bisa menyebabkan korosi pada tulangan.
- Air tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram/liter karena dapat menurunkan mutu beton sehingga akan rapuh dan lemah.
- Air tidak mengandung minyak lebih dari 2 % dari berat semen karena akan mengurangi kuat tekan beton sebesar 20 %.
- Air tidak mengandung gula lebih dari 2 % dari berat semen karena akan mengurangi kuat tekan beton pada umur 28 hari.
- Air tidak mengandung bahan organik seperti rumput/lumut yang terkadang terbawa air Karena akan mengakibatkan berkurangnya daya lekat dan menimbulkan rongga pada beton.
Air yang dapat digunakan dalam proses pencampuran beton menurut SK SNI 03-2847-2002 adalah sebagai berikut :
- Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan.
- Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang didalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan.
- Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama dan hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa, terkecuali pada air pencampur, yang dibuat dan diuji sesuai dengan “Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)” (ASTM C 109 ).
Demikian sedikit uraian tentang pengaruh air terhadap kualitas beton. Semoga bermanfaat.
Alat-alat berat merupakan alat yang digunakan untuk membantu manusia dalam melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur bangunan. Alat berat merupakan faktor penting didalam proyek, terutama proyek-proyek konstruksi maupun pertambangan dan kegiatan lainnya dengan skala yang besar (Rostiyanti 2009)
Tujuan dari penggunaan alat-alat berat tersebut adalah untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan pekerjaannya, sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah dengan waktu yang relatif lebih singkat.
Alat berat yang umum dipakai dalam proyek kostruksi antara lain :
- Dozer.
- Alat gali (excavator) seperti backhoe, front shovel, clamshell.
- Alat pengangkut seperti loader, truck dan conveyor belt.
- Alat pemadat tanah seperti roller dan compactor, dan lain lain.
Klasifikasi alat-alat berat
Alat berat juga dapat dikategorikan ke dalam beberapa klasifikasi. Klasifikasi tersebut adalah klasifikasi fungsional alat berat dan klasifikasi operasional alat berat.
1. Klasifikasi Fungsional Alat Berat
Yang dimaksud dengan klasifikasi fungsional alat berat adalah pembagian alat tersebut berdasarkan fungsi-fungsi utama alat. Berdasarkan fungsinya alat berat dapat dibagi atas berikut ini (Rostiyanti 2009) :
a. Alat Pengolah Lahan
Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah. Jika pada lahan masih terdapat semak atau pepohonan maka pembukaan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan dozer. Untuk pengangkatan lapisan tanah paling atas dapat digunakan scraper. Sedangkan untuk pembentukan permukaan supaya rata selain dozer dapat digunakan juga motor grader.
Bulldozer dapat dibedakan menjadi dua yakni menggunakan roda kelabang (Crawler Tractor Dozer) dan Buldoser yang menggunakan roda karet (Wheel Tractor Dozer). Pada dasarnya Buldoser menggunakan traktor sebagai tempat dudukan penggerak utama, tetapi lazimnya traktor tersebut dilengkapi dengan sudu sehingga dapat berfungsi sebagai Buldoser yang bisa untuk menggusur tanah.
Buldoser digunakan sebagai alat pendorong tanah lurus ke depan maupun ke samping, tergantung pada sumbu kendaraannya. Untuk pekerjaan di rawa digunakan jenis Buldoser khusus yang disebut Swamp Bulldozer.
b. Alat Penggali
Jenis alat ini dikenal juga dengan istilah excavator. Beberapa alat berat digunakan untuk menggali tanah dan batuan. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah front shovel, backhoe, dragline, dan clamshell.
c. Alat Pengangkut Material
Crane termasuk di dalam kategori alat pengangkut material, karena alat ini dapat mengangkut material secara vertical dan kemudian memindahkannya secara horizontal pada jarak jangkau yang relatif kecil. Untuk pengangkutan material lepas (loose material) dengan jarak tempuh yang relatif jauh, alat yang digunakan dapat berupa belt, truck dan wagon. Alat-alat ini memerlukan alat lain yang membantu memuat material ke dalamnya.
d. Alat Pemindahan Material
Yang termasuk dalam kategori ini adalah alat yang biasanya tidak digunakan sebagai alat transportasi tetapi digunakan untuk memindahkan material dari satu alat ke alat yang lain. Loader dan dozer adalah alat pemindahan material.
e. Alat Pemadat
Jika pada suatu lahan dilakukan penimbunan maka pada lahan tersebut perlu dilakukan pemadatan. Pemadatan juga dilakukan untuk pembuatan jalan, baik untuk jalan tanah dan jalan dengan perkerasan lentur maupun perkerasan kaku. Yang termasuk sebagai alat pemadat adalah tamping roller, pneumatictiredroller, compactor, dan lain-lain. Pekerjaan pembuatan landasan pesawat terbang, jalan raya, tanggul sungai dan sebagainya tanah perlu dipadatkan semaksimal mungkin. Pekerjaan pemadatan tanah dalam skala kecil pemadatan tanah dapat dilakukan dengan cara menggenangi dan membiarkan tanah menyusust dengan sendirinya, namun cara ini perlu waktu lama dan hasilnya kurang sempurna, agar tanah benar-benar mampat secara sempurna diperlukan cara-cara mekanis untuk pemadatan tanah.
Pemadatan tanah secara mekanis umumnya dilakukan dengan menggunakan mesin penggilas (Roller). Klasifikasi Roller yang dikenal antara lain adalah:
- Berdasarkan cara geraknya, yaitu ada yang bergerak sendiri, tapi ada juga yang harus ditarik traktor.
- Berdasarkan bahan roda penggilasnya, yaitu ada yang terbuat dari baja (Steel Wheel) dan ada yang terbuat dari karet (pneumatic).
- Dilihat dari bentuk permukaan roda, yaitu ada yang punya permukaan halus (plain), bersegmen, berbentuk grid, berbentuk kaki domba, dan sebagainya.
- Dilihat dari susunan roda gilasnya, yaitu ada yang dengan roda tiga (Three Wheel), roda dua (Tandem Roller), dan Three Axle Tandem Roller.
- Alat pemadat yang menggunakan penggetar (vibrator).
f. Alat Pemroses Material
Alat ini dipakai untuk mengubah batuan dan mineral alam menjadi suatu bentuk dan ukuran yang diinginkan. Hasil dari alat ini misalnya adalah batuan bergradasi, semen, beton, dan aspal. Yang termasuk didalam alat ini adalah crusher dan concrete mixer truck. Alat yang dapat mencampur material-material di atas juga dikategorikan ke dalam alat pemroses material seperti concretebatch plant dan asphalt mixing plant.
g. Alat Penempatan Akhir Material
Alat digolongkan pada kategori ini karena fungsinya yaitu untuk menempatkan material pada tempat yang telah ditentukan. Ditempat atau lokasi ini material disebarkan secara merata dan dipadatkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah concrete spreader, asphalt paver, motor grader, dan alat pemadat.
2. Klasifikasi Operasional Alat Berat
Alat-alat berat dalam pengoperasiannya dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain atau tidak dapat digerakan atau statis. Jadi klasifikasi alat berdasarkan pergerakannya dapat dibagi atas berikut ini :
a. Alat dengan Penggerak
Alat penggerak merupakan bagian dari alat berat yang menerjemahkan hasil dari mesin menjadi kerja. Bentuk dari alat penggerak adalah crawler atau roda kelabang dan ban karet. Sedangkan belt merupakan alat penggerak pada conveyor belt.
b. Alat Statis
Yang termasuk dalam kategori ini adalah towercrane, batching plant, baik untuk beton maupun untuk aspal serta crusher plant.
Crane (alat pengangkat) jenisnya ada bermacam-macam: Crane gelegar, crane kolom putar, crane putar, crane portal, crane menara, crane kabel, dan mobil crane. Beberapa jenis Crane banyak digunakan dalam proyek-proyek bangunan sipil yang berkaitan dengan pemindahan tanah adalah mobile crane, sebab crane ini dapat dengan mudah dipindah-pindahkan, karena pekerjaan pemindahan tanah secara mekanis membutuhkan mobilitas alat yang relatif tinggi.
Demikian sedikit ulasan tentang klasifikasi alat berat dalam proyek. Semoga bermanfaat dan terima kasih.
Jika kita akan mengerjakan pekerjaan pengecoran kolom, kita sering mendengar istilah sepatu kolom. Pada postingan kali ini akan kami bahas sedikit tentang sepatu kolom.
Sepatu kolom adalah sebuah alat bantu yang dibuat pada bawah tulangan kolom yang berhubungan dengan pondasi yang sudah dicor. Sepatu kolom biasanya terbuat dari profil baja siku L 30.30.3, yang dilas ke sengkang kolom. Ada juga sepatu kolom yang dibuat dari blok beton dengan tinggi kurang lebih 5 cm.
Sepatu kolom dibuat sesuai dengan markingan ukuran kolom. Jadi pemasangan sepatu kolom setelah ukuran kolom dimarking terlebih dahulu.
Adapun fungsi sepatu kolom ini adalah sebagai pengaku posisi tulangan kolom agar tidak berubah posisi pada saat proses pengecoran dan juga berfungsi sebagai penahan bekisting bagian bawah agar posisi bekisting tidak berubah dan ukuran kolom menjadi benar.
Demikian sedikit ulasan tentang sepatu kolom. Terima kasih.
Pondasi batu kali merupakan salah satu jenis pondasi dangkal yang masih sering kita jumpai untuk pondasi rumah tinggal. Pada kesempatan yang lalu telah kita bahas tentang Tahap Pelaksanaan Pondasi Batu Kali. Pada kesempatan kali ini akan kita lanjutkan pembahasan kita tentang cara menghitung kebutuhan material pondasi batu kali.
Untuk menghitung kebutuhan material pondasi batu kali, kali ini kami mengacu pada SNI - DT91 - 0006 - 2007. Misalkan kita mempunyai pondasi batu kali dengan total panjang 80 meter, dengan lebar pondasi bawah 70 cm dan lebar pondasi atas 25 cm serta kedalaman pondasi 70 cm, maka berapa kebutuhan material batu kali, semen dan pasir pasang untuk mencukupi pondasi tersebut? Mari kita hitung bersama.
Pertama kali yang kita hitung adalah luas penampang pondasi batu kali tersebut, yaitu dengan rumus :
(0,7+0,25)/2 x 0,7 = 0,33 m2.
Maka volume pondasi batu kali tersebut adalah = 0,33 x 80 = 26,4 m3.
Untuk menghitung material batu kali, semen dan pasir pasang, di dalam SNI - DT91 - 0006 - 2007 ada 5 buah campuran, antara lain :
1. Campuran 1 PC : 3 PP
Maka kebutuhan materialnya adalah :
Batu belah : 26,4 x 1,2 = 31,68 m3.
Semen : 26,4 x 202 = 5.332,8 kg (pc 40kg = 133,32 zak atau pc 50 kg = 106,656 zak).
Pasir : 26,4 x 0,485 = 12,804 m3.
2. Campuran 1 PC : 4 PP
Maka kebutuhan materialnya adalah :
Batu belah : 26,4 x 1,2 = 31,68 m3.
Semen : 26,4 x 163 = 4.303,2 kg (pc 40kg = 107,58 zak atau pc 50 kg = 86,064 zak).
Pasir : 26,4 x 0,520 = 13,728 m3
3. Campuran 1 PC : 5 PP
Maka kebutuhan materialnya adalah :
Batu belah : 26,4 x 1,2 = 31,68 m3.
Semen : 26,4 x 133 = 3.511,2 kg (pc 40kg = 87,78 zak atau pc 50 kg = 70,224 zak).
Pasir : 26,4 x 0,544 = 14,3616 m3
4. Campuran 1 PC : 6 PP
Maka kebutuhan materialnya adalah :
Batu belah : 26,4 x 1,2 = 31,68 m3.
Semen : 26,4 x 117 = 3.088,8 kg (pc 40kg = 77,22 zak atau pc 50 kg = 61,776 zak).
Pasir : 26,4 x 0,561 = 14,8104 m3
5. Campuran 1 PC : 8 PP
Maka kebutuhan materialnya adalah :
Batu belah : 26,4 x 1,2 = 31,68 m3.
Semen : 26,4 x 91 = 2.402,4 kg (pc 40kg = 60,06 zak atau pc 50 kg = 48,048 zak).
Pasir : 26,4 x 0,584 = 15,4176 m3
Demikian sedikit ulasan tentang cara menghitung kebutuhan material pondasi batu kali. Semoga bermanfaat. Terima kasih.
Beton adalah material konstruksi yang banyak dipakai di Indonesia, jika dibandingkan dengan material lain seperti kayu dan baja. Hal ini bisa dimaklumi, karena bahan-bahan pembentukannya mudah terdapat di Indonesia, cukup awet, mudah dibentuk dan harganya relatif terjangkau. Ada beberapa aspek yang dapat menjadi perhatian dalam sistem beton konvensional, antara lain waktu pelaksanaan yang lama dan kurang bersih, kontrol kualitas yang sulit ditingkatkan serta bahan-bahan dasar cetakan dari kayu dan triplek yang semakin lama semakin mahal dan langka.
Seiring dengan perkembangan waktu dan perkembangan teknologi, sekarang dijumpai beton pracetak / precast concrete untuk menggantikan sistem beton konvensional. Precast Concrete Beton / pracetak adalah suatu metode percetakan komponen secara mekanisasi dalam pabrik atau workshop dengan memberi waktu pengerasan dan mendapatkan kekuatan sebelum dipasang.
Precast Concrete atau Beton pra-cetak menunjukkan bahwa komponen struktur beton tersebut tidak dicetak atau dicor ditempat komponen tersebut akan dipasang. Biasanya ditempat lain, dimana proses pengecoran dan curing-nya dapat dilakukan dengan baik dan mudah. Jadi komponen beton pra-cetak dipasang sebagai komponen jadi, tinggal disambung dengan bagian struktur lainnya menjadi struktur utuh yang terintegrasi. Karena proses pengecorannya di tempat khusus (bengkel frabrikasi), maka mutunya dapat terjaga dengan baik. Tetapi agar dapat menghasilkan keuntungan, maka beton pra-cetak hanya akan diproduksi jika jumlah bentuk typical-nya mencapai angka minimum tertentu, sehingga tercapai break-event-point-nya. Bentuk typical yang dimaksud adalah bentuk-bentuk yang repetitif, dalam jumlah besar.
Sistem pracetak berkembang mula-mula di negara Eropa. Struktur pracetak pertama kali digunakan adalah sebagai balok beton precetak untuk Casino di Biarritz, yang dibangun oleh kontraktor Coignet, Paris 1891. Pondasi beton bertulang diperkenalkan oleh sebuah perusahaan Jerman, Wayss & Freytag di Hamburg dan mulai digunakan tahun 1906. Tahun 1912 beberapa bangunan bertingkat menggunakan sistem pracetak berbentuk komponen-komponen, seperti dinding, kolom dan lantai diperkenalkan oleh John. E. Conzelmann. Struktur komponen pracetak beton bertulang juga diperkenalkan di Jerman oleh Philip Holzmann AG, Dyckerhoff & Widmann G Wayss & Freytag KG, Prteussag, Loser dan lain-lain. Sstem pracetak tahan gempa dipelopori pengembangannya di Selandia Baru. Amerika dan Jepang yang dikenal sebagai negara maju di dunia, ternyata baru melakukan penelitian intensif tentang sistem pracetak tahan gempa pada tahun 1991. Dengan membuat program penelitian bersama yang dinamakan PRESS ( Precast seismic Structure System).
Indonesia telah mengenal sistem pracetak yang berbentuk komponen, seperti tiang pancang, balok jembatan, kolom dan plat lantai sejak tahun 1970an. Sistem pracetak semakin berkembang dengan ditandai munculnya berbagai inovasi seperti Sistem Column Slab (1996), Sistem L-Shape Wall (1996), Sistem All Load Bearing Wall (1997), Sistem Beam Column Slab (1998), Sistem Jasubakim (1999), Sistem Bresphaka (1999) dan sistem T-Cap (2000).
Ada 5 masalah utama dalam pengembangan sistem pracetak, antara lain :
- Kerjasama dengan perencana di bidang lain yang terkait, terutama dengan pihak arsitektur dan mekanikal/elektrikal/plumbing.
- Sistem ini relatif baru.
- Kurang tersosialisasikan jenisnya, produk dan kemampuan sistem pracetak yang telah ada.
- Keandalan sambungan antarkomponen untuk sistem pracetak terhadap beban gempa yang selalu menjadi kenyataan.
- Belum adanya pedoman perencanaan khusus mengenai tata cara analisis, perencanaan serta tingkat kendala khusus untuk sistem pracetak yang dapat dijadikan pedoman bagi pelaku konstruksi.
Proses produksi/pabrikasi beton pracetak dapat dibagi menjadi tiga tahapan berurutan yaitu :
1. Tahap Design
Proses perencanaan suatu produk secara umum merupakan kombinasi dari ketajaman melihat peluang, kemampuan teknis, kemampuan pemasaran. Persyaratan utama adalah struktur harus memenuhi syarat kekuatan, kekakuan dan kestabilan pada masa layannya.
2. Tahap Produksi
Beberapa item pekerjaan yang harus dimonitor pada tahap produksi, antara lain :
- Kelengkapan dari perintah kerja dan gambar produk.
- Mutu dari bahan baku.
- Mutu dari cetakan.
- Mutu atau kekuatan beton.
- Penempatan dan pemadatan beton.
- Ukuran produk.
- Posisi pemasangan.
- Perawatan beton.
- Pemindahan, penyimpanan dan transportasi produk.
- Pencatatan ( record keeping ).
Tahap produksi terdiri dari :
- Persiapan.
- Pabrikasi tulangan dan cetakan.
- Penakaran dan pencampuran beton.
- Penuangan dan pengecoran beton.
- Transportasi beton segar.
- Pemadatan beton.
- Finishing / repairing beton.
- Curing beton.
3. Tahap Pascaproduksi
Tahap Pascaproduksi terdiri dari tahap penanganan ( handling ), penyimpanan ( storage ), penumpukan ( stacking ), pengiriman ( transport dan tahap pemasangan di lapangan ( site erection ).
Demikian sedikit ulasan tentang precast concrete aatau beton pracetak. Terima kasih.
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa jenis pondasi terdiri dari 2 jenis, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Salah satu jenis pondasi dangkal yaitu pondasi rollag bata.
Pondasi rollag bata merupakan pondasi yang diaplikasikan untuk menopang berat beban pada bangunan. Namun, pada saat ini pondasi rollag bata telah lama ditinggalkan. Selain mahal, pemasangannya pun membutuhkan waktu yang lama serta tidak memiliki kekuatan yang bisa diandalkan. Akan tetapi, pondasi ini tetap digunakan untuk menahan beban ringan, misalnya pada teras.
Rollag bata merupakan pondasi sederhana yang fungsinya bukan menyalurkan beban bangunan, melainkan untuk menyeimbangkan posisi lantai agar tidak terjadi amblas pada ujung lantai. Fungsinya hampir sama dengan sloof gantung namun rollag bata tidak sekuat sloof gantung dan tidak semahal sloof gantung. Pondasi rolag bata terbuat dari tumpukan bata yang dirangkai dengan adukan beton.
Perlu diingat juga bahwa pemilihan jenis pondasi bangunan harus menyesuaikan kondisi tanah agar posisi pondasi stabil serta tidak mengalami penurunan bangunan yang membahayakan kekuatan struktur bangunan.
Demikian sedikit ulasan tentang pondasi rollag bata. Terima kasih.
Pada saat akan dilakukan pekerjaan pengecoran, pasti kita melihat suatu benda (seperti gambar di atas) yang diletakkan di sela-sela antara besi dan bekisting. Benda seperti foto tersebut di atas dinamakan beton decking atau istilah lain tahu beton.
Beton decking atau tahu beton adalah beton atau spesi yang dibentuk sesuai dengan ukuran selimut beton yang diinginkan. Biasanya berbentuk kotak-kotak atau silinder. Dalam pembuatannya, diisikan kawat bendrat pada bagian tengah yang nantinya dipakai sebagai pengikat pada tulangan.
Pada dasarnya decking terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu :
- Plasting decking, terbuat dari bahan plastik dengan ketebalan 3,5 cm.
- Beton decking, terbuat dari campuran beton, berbentuk silinder kecil, dengan diameter 10 cm dan ketebalannya menyesuaikan dengan ketebalan selimut beton yang direncanakan oleh Konsultan Perencana.
Beton decking berfungsi untuk menjaga tulangan agar sesuai dengan posisi yang diinginkan. Bisa dibilang berfungsi untuk membuat selimut beton sehingga besi tulangan akan selalu diselimuti beton yang cukup, sehingga didapatkan kekuatan maksimal dari bangunan yang dibuat. Selain itu, selimut beton juga menjaga agar tulangan pada beton tidak berkarat (korosi).
Demikian sedikit ulasan tentang beton decking. Semoga bermanfaat.
Salah satu jenis pondasi yang familiar di telinga kita yaitu pondasi cakar ayam. Pondasi cakar ayam terdiri dari plat beton bertulang yang relatif tipis yang didukung oleh buis-buis beton bertulang yang dipasang vertikal dan disatukan secara monolit dengan plat beton pada jarak 200-250 cm. Tebal pelat beton berkisar antara 10-20 cm, sedang pipa-buis beton bertulang berdiameter 120 cm, tebal 8 cm dan panjang berkisar 150-250 cm. Buis-buis beton ini gunanya untuk pengaku pelat. Dalam mendukung beban bangunan, pelat buis beton dan tanah yang terkurung di dalam pondasi bekerjasama, sehingga menciptakan suatu siatem komposit yang di dalam cara bekerjanya secara keseluruhan akan identik dengan pondasi rakit ralft foundation.
Pondasi cakar ayam ini merupakan salah satu jenis pondasi hasil karya anak bangsa Indonesia yaitu ditemukan oleh Prof Dr Ir Sedijatmo pada tahun 1961. Ketika itu Prof Dr Ir Sedijatmo sebagai pejabat PLN harus mendirikan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol Jakarta. Dengan susah payah, 2 menara berhasil didirikan dengan sistem pondasi konvensional, sedangkan sisa yang 5 lagi masih terbengkelai. Menara ini untuk menyalurkan listrik dan pusat tenaga listrik di Tanjung Priok ke Gelanggang Olah Raga Senayan dimana akan diselenggarakan pesta olah raga Asian Games 1962.
Karena waktunya sangat mendesak, sedangkan sistem pondasi konvensional sangat sukar diterapkan di rawa-rawa tersebut, maka dicarilah sistem baru, Lahirlah ide Ir Sedijatmo untuk mendirikan menara di atas pondasi yang terdiri dari plat beton yang didukung oleh pipa-pipa beton di bawahnya. Pipa dan plat itu melekat secara monolit (bersatu), dan mencengkeram tanah lembek secara meyakinkan.
Oleh Sedijatmo, hasil temuannya itu diberi nama sistem pondasi cakar ayam. Menara tersebut dapat diselesaikan tepat pada waktunya, dan tetap kokoh berdiri di daerah Ancol yang sekarang sudah menjadi kawasan industri. Bagi daerah yang bertanah lembek, pondasi cakar ayam tidak hanya cocok untuk mendirikan gedung, tapi juga untuk membuat jalan dan landasan. Satu keuntungan lagi, sistem ini tidak memerlukan sistem drainase dan sambungan kembang susut.
Demikian salah satu penemuan fenomenal di dunia konstruksi oleh anak bangsa Indonesia, mudah-mudahan ke depan masih banyak lagi penemuan-penemuan fenomenal di dunia konstruksi. Terima kasih.
Bekisting merupakan material yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan pengecoran. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya bahwa material bekisting yang umum digunakan adalah dari material kayu.
Untuk menghasilkan dan menjaga life time material bekisting, umumnya dilakukan perawatan sebelum dan sesudah pemakaian bekisting. Apalagi bagi kita yang bekerja di Kontraktor, terkadang kita dituntut untuk memaksimalkan material yang ada agar cost / pengeluaran proyek bisa hemat, namun tidak boleh mengurangi kualitas pekerjaan. Untuk itu, metode perawatan bekisting yang umum diberikan adalah penggunaan oli pada bekisting.
Adapun macam-macam Oli yang disarankan pada perawatan bekisting adalah sebagai berikut :
- Oli bekas
- Solar
- Oli Sika, dan lain-lain
Pondasi adalah salah satu komponen penting dalam bangunan yang merupakan struktur penting dan berposisi di struktur paling bawah, dimana fungsinya untuk menerima beban bangunan dan beban bangunan tersebut diteruskan ke tanah dasar. Pondasi banyak jenisnya, penggunannya tergantung dari bangunan yang dibuat serta kontur tanah pada tempat itu.
Salah satu jenis pondasi yang sering kita jumpai adalah pondasi batu kali. Pondasi batu kali sering kita temui pada bangunan – bangunan rumah tinggal. Pondasi ini masih digunakan, karena selain kuat, pondasi ini pun masih termasuk murah. Bentuknya yang trapesium dengan ukuran tinggi 60 – 80 Cm, lebar pondasi bawah 60 – 80 Cm dan lebar pondasi atas 25 – 30 Cm.
Untuk pelaksanaan pondasi batu kali, ada 2 tahap pekerjaan, yaitu pekerjaan tanah dan pekerjaan pondasi itu sendiri. Untuk uraiannya akan kita bahas di bawah ini.
Pekerjaan Tanah
- Pembongkaran dan Pembersihan lokasi atau lapangan yang akan di gali misalkan pembuangan rumput atau tanah, sampah, bahan lainnya yang mengganggu, menebang pohon-pohon dan mencabut akarnya serta membuang keluar lokasi supaya di dalam pengerjaannya lancar.
- penggalian tanah untuk pondasi disesuai dengan ukuran yang ada dalam gambar kerja atau penggalian pondasi tersebut harus sampai pada tanah keras. Apabila diperlukan untuk memadatkan daya dukung yang baik, dasar galian harus dipadatkan atau ditumbuk.
- Jika galian melebihi batas kedalaman harus menimbun kembali dan dipadatkan sampai kepadatan yang maksimum.
- Hasil galian yang dipakai untuk penimbunan harus diangkat langsung ketempat yang direncanakan. Sedangkan hasil galian yang tidak dapat dipakai untuk penimbunan harus disingkirkan.
- Harga satuan pekerjaan harus sudah mencakup semua biaya pekerjaan-pekerjaan, pembersihan, sewa alat, penimbunan dan pembuangan hasil galian.
Pekerjaan Pondasi
- Pondasi bangunan yang digunakan adalah pondasi batu kali / batu gunung yang memenuhi persyaratan teknis atau sesuai keadaan dilapangan.
- Tebarkan Pasir Urug dibagian permukaan galian tanah setebal 10 cm (atau yang disarankan).
- Pasanglah terlebih dahulu Batu Kali bulat tanpa adukan semen (Aanstamping) diatas pasir urug.
- Pasanglah pondasi Batu Kali Belah dengan adukan semen campuran, 1 : 5 atau 1 : 4 (Semen dan Pasir), besarannya disesuaikan dengan ukuran pada Gambar Lapangan.
- Pada posisi 20 cm bagian atas pasangan batu kali belah, sebaiknya dilakukan dengan campuran semen kedap air 1 : 3, untuk menghindari terjadinya rembesan air tanah terhadap pasangan dinding diatas dekat pondasi.
- Celah–celah yang besar antara batu diisi dengan batu kecil yang cocok padatnya.
- Pasangan pondasi batu kali tidak saling bersentuhan dan selalu ada perekat diantaranya hinga rapat.
- Pada pasangan batu kali sudah harus disiapkan anker besi untuk kolom, kedalaman anker 30 cm harus dicor dan panjang besi yang muncul diatasnya minimal 75 cm.
- Setelah pelaksanaan pekerjaan pondasi sampai bagian atas selesai, lakukan pengecekan kembali untuk mengetahui permukaan Pondasi sudah rata (water pas).
Demikian sedikit ulasan tentang tahap peaksanaan pondasi batu kali. Semoga bermanfaat dan terima kasih.
| Gambar kolom setelah dibuka bekistingnya |
Setelah pada kesempatan yang lalu telah dibahas tentang Pengertian Bekisting dan Jenisnya, Tahap Pemasangan Bekisting, maka pada kesempatan kali ini akan kita lanjutkan tentang Tahap Pembongkaran Bekisting.
![]() |
| Gambar pembongkaran bekisting balok |
Untuk menentukan berapa lama bekisting dapat di bongkar tanpa menimbulkan crack atau lendut pada balok atau lantai beton tentunya harus melalui prosedur ijin bongkar dari konsultan serta hasil analisa statik terhadap umur beton.
![]() |
| Gambar pembongkaran plat lantai |
Waktu yang tepat untuk melakukan bongkaran bekisting tentunya tergantung pada bagian struktur beton dan kelas beton yang digunakan serta metode bongkaran yang digunakan. Contohnya Bongkaran pada kolom beton bisa dilakukan 8-12 jam setelah pengecoran, kemudian pada Lantai dengan sistem balok, bekisting slab beton boleh lebih dulu di bongkar pada umur beton minimal 6-7 hari dengan syarat langsung di shoring atau di tumpu oleh pipa support pada jarak tertentu, sementara balok nya di bongkar pada umur 10 hari.
![]() |
| Gambar pembongkaran bekisting kolom |
Pada intinya semua itu perlu di lakukan analisa statik, dengan memasukan umur beton pada saat bongkaran akan dilakukan.
Demikian sedikit pembahasan tentang tahap pembongkarang bekisting. Semoga bermanfaat.
Pada kesempatan yang lalu telah dibahas tentang Pengertian Bekisting dan Jenisnya. Pada kesempatan kali ini pembahasan akan kita lanjutkan tentang tahap pemasangan bekisting.
Pada pekerjaan bekisting, khususnya bekisting plat dan balok biasanya dilakukan pekerjaan perancah. Pekerjaan perancah dilakukan untuk mendukung perencanaan pembuatan bekisting balok dan pelat. Pertama-tama yang harus dilakukan sebelum mendirikan scaffolding adalah memasang jack base pada kaki untuk memudahkan pengaturan ketinggian, setelah itu baru dapat disusun dan disambung antara yang satu dengan lainnya menggunakan joint pin, dan bagian atasnya dipasang U-head untuk menjepit balok kayu yang melintang.
![]() |
| Gambar pendirian scaffolding |
Pekerjaan bekisting dilakukan setelah pekerjaan pembesian. Hal tersebut berlaku pada pekerjaan pembuatan kolom. Sedangkan pada pembuatan balok dan pelat, bekisting terlebih dahulu dikerjakan. Bekisting memiliki fungsi dalam bangunan untuk membuat bentuk dan dimensi pada suatu konstruksi beton, dan mampu memikul beban sendiri yang baru dicor sampai konstruksi tersebut dapat dipikul seluruh beban yang ada.
Pelaksanaan pekerjaan bekisting pada pembuatan balok baru dapat dilakukan setelah pekerjaan perancah selesai. Bekisting yang dibuat adalah bekisting balok, pelat, dan kolom. Petama-tama yang harus dipersiapkan sebelum pembuatan bekisting adalah plywood 12 mm, dan balok kayu 8/12 dan 5/7 yang telah dipotong-potong sesuai kebutuhan. Kemudian balok kayu dan plywoood tersebut dihubungkan dengan paku, sehingga membentuk dimensi balok yang direncanakan. Balok kayu 8/12 digunakan untuk dudukan bekisting balok pada bagian atas scaffolding. Rangka dan penopang bekisting menggunakan kayu 5/7 yang dipaku, kemudian plywood yang sudah dipotong dipaku ke rangka tersebut.
![]() |
| Gambar pekerjaan bekisting balok |
![]() |
| Gambar pemasangan bekisting pada balok |
Pembuatan bekisting pelat dimulai dengan persiapan. Bahan yang harus dipersiapkan adalah plywood 9 mm dan balok ukuran 5/7, 4/6 atau sejenisnya. Pertama-tama yang harus dilakukan untuk memulai pembuatan bekisting pelat adalah memasang multispan yang berpegangan pada bekisting balok. Kemudian plywood yang telah dipotong-potong diletakkan di atas balok dan disusun dengan rapi dan rapat agar tidak bocor.
![]() |
| Gambar tampak bawah bekisting pelat |
![]() |
| Gambar tampak atas bekisting pelat |
Bekisting pada kolom menggunakan plywood 12 mm, baja sebagai penguaat, dan rangka besi siku yang dirancang untuk plywood. Rangka besi siku yang telah dipasang plywood didirikan, lalu antara rangka yang satu dengan yang lainnya dihubungkan menggunakan baut. Bekisting tersebut diberikan sokongan samping menggunakan baja ukuran 5/7.
![]() |
| Gambar bekisting kolom |
![]() |
| Gambar pemasangan bekisting kolom |
![]() |
| Gambar pemasangan core lift |
Demikian sedikit ulasan tentang Tahap Pemasangan Bekisting. Terima kasih.
































